Oleh: Elbert Bandau | 10 Juli 2009

Menikmati kepuasan lewat sesuatu yang tidak memuaskan

J0300520

Awal-awal membuat blog ini sempat membuat putus asa juga…oleh karena akses internet di daerahku (Kolonodale, Kab. Morowali, Sulawesi Tengah) yang hanya memanfaatkan koneksi gprs indosat ataupun telkomsel *kacian de lo*

Kadang koneksinya bagus, kadang juga lemot minta ampun….namun dengan penuh kesabaran dan terus berusaha keras akhirnya berhasil juga, dengan memakan waktu 3 hari baru selesailah blog ini dengan suasana hati antara memuaskan dan mengecewakan. Memuaskan karena berhasil membuat blog dengan koneksi internet yang pas-pasan, mengecewakan karena tampilan blog saya yang masih kacau balau *baru belajar sih…plus koneksi internet yang lumayan jelek*

Begitulah keadaan di daerah saya yang menggambarkan seperti pada umumnya suatu daerah yang baru berkembang, namun perkembangan daerah saya sama halnya dengan keadaan koneksi internet yang ada (lemot abis)….keadaan saat ini lebih parah lagi, dimana daerah saya yang eks Ibu Kota Kabupaten Morowali, sama sekali tidak memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat yang ada. Salah satu contoh, ya itu tadi…jaringan telekomunikasi saja gak pernah diperhatikan oleh pihak yang terkait [mungkin karena telah berubah status dari Ibu Kota Kabupaten kembali menjadi Ibu Kota Kecamatan…puiiih].

Berawal dari membuat blog inilah sehingga saya kembali teringat pada masa-masa dimana daerah saya masih berstatus Ibu Kota Kabupaten dengan segala upaya pemerintah dalam menggenjot pembangunan. Seandainya…..daerah saya ini masih berstatus Ibu Kota Kabupaten, tentunya apa yang menjadi pengalaman saya diatas tidak akan seperti ini jadinya [apa boleh buat…tai kambing bulat-bulat]

Namun, saya masih menyimpan kekesalan itu…kesal…kesal…kesal!!! kesal bukan karena difungsikannya Ibu Kota Kabupaten yang definitif yaitu Bungku, tetapi kesal karena adanya UU Nomor 51 Tahun 1999 yang didalamnya menyebutkan bahwa Ibu Kota Kabupaten Morowali untuk sementara di Kolonodale sambil menunggu kesiapan sarana dan prasarana yang memadai bagi Ibu Kota Kabupaten Morowali definitif.

Masih teringat dengan jelas ketika terjadinya demonstrasi-demonstrasi massa antara massa pendukung pemfungsian Ibu Kota Kabupaten Morowali definitif di Bungku dan massa pendukung yang mempertahankan agar Ibu Kota Kabupaten Morowali tetap di Kolonodale, dimana banyak sekali terjadi aksi-aksi anarkis. Semuanya itu merupakan hasil dari UU yang dibuat oleh manusia, dimana tidak disadari [atau mungkin disadari juga] bahwa UU tersebut akan menjadi sumber pemicu konflik. Semoga ini menjadi pelajaran bagi Opa/Oma, Bapak/Ibu, Saudara/i pengambil kebijakan, pembuat Undang-Undang, pembuat ini itu atau apalah….

Sudahlah….tidak perlu dipikirkan yang lalu-lalu, pengalaman kemarin adalah pelajaran untuk kehidupan dimasa sekarang, dimana menjadi bahan pertimbangan untuk melangkah dimasa yang akan datang… piss!!

Ada sedikit yang menjadi penghiburan saya oleh karena telah mendapatkan kepuasan dari sesuatu yang tidak memuaskan, itu saja cukuplah….


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: