Oleh: Elbert Bandau | 16 September 2011

6 PILAR MEMBANGUN RUMAH TANGGA

Membangun sebuah rumah tangga pastilah menjadi salah satu tujuan hidup seseorang. Memilih pasangan yang pas dengan melalui beberapa kriteria yang tentunya juga hal ini selalu dipikirkan oleh kebanyakan orang ketika akan menentukan pasangan hidupnya. Tanggal 11 – 11 – 2011 adalah merupakan hari yang banyak dipilih oleh keluarga dan kerabat saya dalam menentukan hari “H” pernikahan mereka. Hari yang ditentukan dalam pernikahan ini juga merupakan moment yang sangat penting untuk dapat mengenang satu peristiwa istimewa tersebut dalam kehidupan setiap orang. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang sering kita pikirkan secara matang dalam merencanakan suatu pernikahan, membangun sebuah rumah tangga yang baru. Semuanya itu merupakanperencanaan awal dalam membentuk sebuah rumah tangga. Dan untuk selanjutnya, ketika bahtera rumah tangga telah kita jalani, maka tentunya akan lebih banyak lagi hal-hal yang sangat penting dan sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Oleh karena itu…… dalam tulisan saya kali ini, saya ingin berbagi dengan keluarga dan kerabat saya, bahkan semua yang mungkin membutuhkan pedoman dalam membangun rumah tangga yang baru. Tentunya kita semua sangat mendambakan kokohnya sebuah kehidupan rumah tangga kita masing-masing. Ada banyak hal yang perlu kita perhatikan dan pedomani, namun dalam kesempatan ini saya ingin memberikan 6 (enam) buah pilar yang sangat dibutuhkan demi mempertahankan kekokohan sebuah rumah tangga, yaitu sebagai berikut :

1. Latar Belakang Keluarga

Latar belakang keluarga kedua belah pihak dapat dipungkiri dan pastilah ini sangat memegang peranan penting. Yang termasuk disini antara lain suku, bangsa, ras, agama, sosial, kondisi ekonomi, pola hidup dan sebagainya. Namun bukan berarti pasangan dengan latar belakang yang sangat berbeda dan bertolak belakang tidak mungkin bersatu. Hanya saja mereka mesti lebih siap dituntut untuk berupaya lebih keras dalam proses penyesuaian diri. Untuk itu, ketika kita sudah menentukan pasangan hidup kita yang mungkin berbeda latar belakang seperti yang disebutkan diatas, maka tentunya hal yang sangat penting dan perlu ekstra hati-hati dalam menjalani kehidupan rumah tangga adalah proses penyesuaian diri. Memahami dan menyesuaikan perbedaan itu antara pasangan, orang tua pasangan kita dan keluarga dari pasangan kita.

2. Kesetaraan

Kesetaraan akan mempermudah suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Adanya kesetaraan dalam banyak hal dapat meminimalkan friksi yang mungkin timbul. Kesetaraan ini antara lain meliputi kesetaraan pendidikan, pola pikir, dan keimanan.

3. Krakteristik Individu

Setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan ini menjadi salah satu pilar yang menentukan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga. Individu dengan karakter sulit yang bertemu dengan individu yang juga berkarakter sulit, tentu lebih berat dalam mempertahankan pernikahannya. Sebaliknya, yang berkarakter sulit bila bertemu dengan pasangan yang berkarakter mudah, tentu proses penyesuaian yang harus dijalaninya bakal lebih mulus.

4. Cinta

Kata yang satu ini tidaklah sepele. Walaupun tidak berwujud, cinta dapat dirasakan. Pernikahan tanpa cinta dapat diibaratkan sayur tanpa garam, serba hambar dan dingin. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang mencakup makna melindungi, memiliki tanggung jawab, memberi rasa aman, pada pasangan dan sebagainya. Ada yang bilang……setelah sekian lama menikah, cinta biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sementara yang tersisa tinggal tanggung jawab. Benarkah demikian?? Tentunya tidak harus seperti itu karena cinta bisa dipupuk supaya terus subur. Menjalani tanggung jawab akan terasa lebih ringan kalau ada cinta didalamnya. Meski tentu saja, mempertahankan rumah tangga tidak cukup hanya dengan bermodalkan cinta semata.

5. Kematangan dan Motivasi

Kematangan suami/istri memang ditentukan oleh faktor usia ketika menikah. Mereka yang menikah terlalu muda secara psikologis belum matang dan ini akan berpengaruh pada motivasinya dalam mempertahankan biduk rumah tangganya. Namun usia tidak identik dengan kematangan seseorang, karena bisa saja orang yang sudah cukup umur tetap kurang memperlihatkan kematangan. Oleh karena itu, usia muda maupun sudah sangat dewasa ketika akan membangun sebuah rumah tangga, bukanlah hal yang sangat menentukan boleh tidaknya sebuah pasangan akan melangsungkan pernikahan. Tetapi yang terpenting adalah kematangan dari masing-masing pasangan. Ada pasangan yang masih muda, tetapi sudah matang dalam berpikir, bertindak dan melakukan hal-hal positif dalam menjalani bahtera rumah tangga.

6. Partnership

Pilar yang terakhir adalah partnership alias semangat bekerja sama diantara sumai dan istri. Tanpa adanya partnership, umumnya rumah tangga mudah goyah. Selain itu perlu “persahabatan” yang bisa dirasakan oleh keduanya. Coba bayangkan, alangkah nikmatnya bila masalah apapun yang menghadang, senantiasa dihadapi bersama dengan seorang sahabat.

Semoga tips kali ini akan dapat membantu bagi pasangan-pasangan yang akan merencanakan membangun sebuah rumah tangga. Hal yang sangat utama tentunya adalah memberikan kepercayaan penuh kepada Tuhan yang akan menuntun perjalanan kehidupan rumah tangga kita semua.

Ok, semoga bermanfaat 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: