Oleh: Elbert Bandau | 19 Desember 2011

Keselamatan Terancam | Masyarakat melakukan aksi demo

KOLONODALE Keprihatinan masyarakat Kota Kolonodale seperti dalam tulisan saya sebelumnya  dengan kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT. Mulia Pasific Resources (MPR) dan PT. Graha Sumber Mining Indonesia (GSMI) dengan mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten  Morowali, semakin mendesak untuk melakukan aksi yang sekiranya ini akan menjadi perhatian khusus oleh Pemerintah Daerah bahkan Pemerintah Pusat. Salah satu organisasi peduli lingkungan yang terbentuk dalam Forum Peduli Lingkungan (FOPLI) Morowali, yang dimotori oleh Bpk. Hamid Samana Guntur SP, kembali melakukan Aksi Diam untuk yang kedua kalinya pada hari Sabtu 17 Desember 2011, dimulai dengan menyusuri jalan-jalan kota Kolonodale dan berakhir dengan kegiatan penanaman pohon di pintu masuk areal pertambangan PT. MPR dan PT. GSMI.

Dua minggu sebelum aksi ini berlangsung, tepatnya Senin 11 November 2011, Pemerintah Kabupaten Morowali melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Kabupaten Morowali, yang disponsori oleh Kementrian Kehutanan Republik Indonesia,  melakukan aksi penanaman pohon ± 20an pohon di lokasi perkantoran (eks Sekretariat Kabupaten Morowali) di Kolonodale, sebagai Gerakan Penanaman 1 Milyar Pohon yang dicanangkan oleh Presiden SBY. Aksi yang dicanangkan oleh Presiden SBY ini seharusnya patut disukseskan, namun sangat tidak seiring bahkan bertolak belakang dengan aksi lain yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Morowali dengan mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan, dimana saat ini nampak sangat jelas didepan mata masyarakat Kota Kolonodale telah terjadi pengrusakan hutan besar-besaran pada areal penambangan yang berada tanpa batasan jarak dengan permukiman penduduk. Selain itu, terjadi pula pencemaran ekosistem perairan laut yang berada di pesisir pantai bagian utara Kolonodale.

Masyarakat mulai merasakan dampak dari penambangan nikel tersebut…..
Masyarakat mulai hilang kesabaran……
Masyarakat mulai bergerak……
Dimanakah para wakil – wakil rakyat Morowali?
Tidak tergerakkah hati mereka melihat setiap detik perubahan yang terjadi akibat beroperasinya perusahaan tambang di Kolonodale?
Haruskah masyarakat langsung yang berbicara?

Banyak masalah – masalah seperti ini yang terjadi hampir disetiap daerah yang ada di Indonesia. Banyak kejadian masyarakat bentrok dengan aparat kepolisian akibat demo-demo yang dilakukan untuk menuntut hak bahkan untuk menolak perusahaan yang dianggap merugikan sampai mengancam keselamatan masyarakat. Apakah Pemerintah dan para Wakil Rakyat mau menunggu sampai hal itu akan terjadi? Masyarakat tentunya akan terus bergerak hingga tuntutannya dapat direstui, dan tentunya pihak perusahaan juga akan tetap tenang-tenang saja dengan dasar IUP yang telah dikantongi. Pihak perusahaan akan merasa aman sebab ada “tameng” aparat kepolisian yang akan berhadapan langsung dengan masyarakat.

Kasus Tiaka yang telah merenggut nyawa warga setempat adalah pelajaran bagi kita semua, semoga ini dapat direnungkan dan bisa mengantisipasi hal-hal seperti itu agar tidak terulang kembali.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: